Cerpen: Lintas Waktu
Lintas Waktu
Karya Ajeng Dyniaseptiani
Waktu sudah menunjukan pukul 8 tepat dan segerombolan siswa dan juga siswi dari SMA Rajewali mulai memadati ruangan aula –tempat dimana sebuah acara meet and greet bersama dengan seorang penulis yang akhir-akhir ini sedang banyak dibicarakan oleh khalayak ramai khususnya dikalangan para remaja dalam berbagai platform media sosial karena kesuksesan dari novelnya yang kemudian sedang berada ditahap proses adaptasi untuk dijadikan sebuah series film dilaksanakan. Kinara –perempuan itu menggulung senyum dibibirnya, dirinya merasa berbangga hati karena ternyata ia bisa kembali ke tempat dimana ia menuntut ilmu 10 tahun yang lalu dengan berada diposisinya yang sekarang ini, padahal dulunya ia juga tidak jauh berbeda bahkan bisa dikatakan sama dengan semua siswa dan siswi yang saat ini sedang duduk memperhatikan dirinya dengan seksama dari bawah panggung bersama pembawa acara. Pada nyatanya, dulu ia juga adalah seorang pemimpi, seorang pemimpi yang berharap karyanya bisa dikenal oleh banyak orang, seorang pemimpi yang berharap suatu saat nanti karyanya bisa terpajang disebuah rak toko buku dengan label best seller bahkan sampai bisa diadaptasi sebagai sebuah visualisasi film, ia adalah seorang pemimpi yang tidak pernah tahu bahwa ternyata semua impiannya itu bisa terwujud dikemudian hari.
“Baiklah karena perkenalan sudah dilakukan, kita akan langsung beranjak saja kepada sesi berbincang bersama penulis, untuk itu jika ada hal yang ingin ditanyakan silahkan untuk mengangkat tangan terlebih dahulu.” Bersamaan dengan selesainya ucapan yang dikatakan oleh pembawa acara, beberapa siswa dan siswi mulai mengangkat tangannya dengan antusias.
“Halo kak." Kinara tersenyum ramah mendengar sapaan yang ditujukan kepada dirinya. “Saya izin bertanya kak, menurut kakak untuk memulai menulis pertama kali itu caranya bagaimana ya? Mungkin kakak bisa membagikan sedikit tips atau cara yang kakak gunakan sendiri saat mulai menulis pertama kali kepada kami semua yang berada diruangan aula ini dan khususnya kepada saya sendiri yang baru saja ingin memulai menulis, terima kasih."
Kinara mengangguk, lalu mulai mengangkat kembali microphone yang sudah sedaritadi ia pegang dan mulai menyuarakan jawabannya. "Cara untuk pertama kali memulai menulis ya? Caranya ada dua, jatuh cinta dan patah hati.” Kinara menghela nafasnya sebentar lalu mulai melanjutkan perkataannya. “Seseorang yang mempunyai peran penting dalam kehidupan saya dulu pernah berkata bahwa cara untuk bisa menulis itu ada dua cara yaitu jatuh cinta dan patah hati, ia bilang kita harus jatuh cinta dulu kepada hal atau sesuatu yang ingin kita lakukan karena setelah hal itu terjadi, kita akan dengan mudah bisa melakukan sesuatu dan menikmati segala proses yang terjadi nanti dengan senang hati karena dari awal kita sudah terlebih dahulu mengenal dan menyukai hal tersebut, tapi kita semua tentunya tidak boleh lupa dengan adanya sebuah resiko, karena seperti apa yang kita semua ketahui, resiko dari berani jatuh cinta itu adalah patah hati."
Beberapa menit kemudian suasana diruangan aula menjadi hening, Kinara tersenyum tipis saat melihat dirinya 10 tahun lalu didalam diri anak remaja berpakaian rok abu yang baru saja melontarkan sebuah pertanyaan kepada dirinya tadi, ia hanyut dalam pikirannya sendiri yang membawanya kembali untuk berjalan dan menyusuri sebuah ruang serta waktu dengan mengingat kejadian yang selalu ia katakan sebagai sejarah, karena pertemuannya dengan sesosok lelaki yang sebelumnya ia sebut sebagai orang yang memiliki peran penting di dalam kehidupannya itu hanya akan terjadi satu kali dan menyisakan sebuah kenangan semata. Dan orang itu adalah dia, orang yang mengenalkannya kepada tulisan dan juga orang yang membuatnya jatuh cinta kepada tulisan itu sendiri.
“Juanda ya kak?”
Bingo. Pradana Juanda, Juanda adalah nama dari tokoh utama didalam novelnya sendiri yang berjudul “Lintas Waktu”. Karakter dan penokohan Juanda memang dibuat sekuat dan seberpengaruh itu disetiap alur cerita karena Kinara ingin mengabadikan orang yang bisa membuatnya jatuh cinta kepada tulisan itu didalam tulisannya sendiri seperti apa yang sebelumnya sudah dikatakan oleh Juanda, Juanda nya.
“Kinara, saya ini fana entah besok atau nanti saya mungkin akan pergi, maaf karena tidak bisa memenuhi janji yang menyebutkan bahwa kisah cinta ini akan berjalan lama bahkan selamanya, maka dari itu tolong, tolong buat saya bisa memenuhi janji tersebut nanti, buatlah saya abadi didalam sebuah cerita fiksi.”
Komentar
Posting Komentar